sany1063.jpg
DAALAM KEINDAHAN ALAM YANG MEMBUTA HATI TERASA DINGIN
DALAM HIJAUNYA DAUN YANG MEMBUAT SENYUMAN MENJADI INDAH
DALAM BINTANG SENJA YANG TERINDAH
DALAM CAHAYA SEJATI
Selasa, 25 November 2008

Cinta tak bisa dipaksakan tapi cinta itu pasti memaksa, sedikit kata tentang cinta namun berjuta arCinta tak bisa dipaksakan tapi cinta itu pasti memaksa, sedikit kata tentang cinta namun berjuta arti...cinta begitu indah namun begitu menyakitkan, tak ada yang bisa menjawab dengan sempurna makna dari "CINTA"Cinta tak bisa dipaksakan tapi cinta itu pasti memaksa, sedikit kata tentang cinta namun berjuta arti...cinta begitu indah namun begitu menyakitkan, tak ada yang bisa menjawab dengan sempurna makna dari "CINTA"ti...cinta begitu indah namun begitu menyakitkan, tak ada yang bisa menjawab dengan sempurna makna dari "CINTA"
Jumat, 21 November 2008
cara buat teleskop
Tapi jangan khawatir, bagi yang kantongnya tipis kita bisa mencoba membuat teleskop sendiri walau hanya sebuah refraktor, dengan bahan-bahan yang relatif murah di sekitar kita diantaranya:
.- lensa bekas fotokopi / lup / lensa cembung (biasanya memiliki fokus 25-60 cm)- lensa obyektif mikroskop m=10x sd 20x- lensa okuler mikroskop m=5x atau 12.5x- pipa pralon 4"- sambungan 4"-4" = 2x dan 4"-2"=1x- teleskop finder ( bisa digunakan binokuler yang kecil/diambil satu saja)- penyangga (tripod) alt-azimuth
.
Yang pertama disebut mikroteleskop karena gabungan antara mikroskop dan teleskop. Prinsip kerja teleskop ini sebetulnya merupakan prinsip kerja sebuah mikroskop yang obyeknya berupa image yang dihasilkan oleh obyektif teleskop (lensa fotokopi). Menggunakan lensa lup (magnifier) yang besar juga bisa tapi kelemahannya fokusnya terlalu pendek akan terjadi pembiasan karena lensa tunggal dan biasanya lensa ini tidak mengalami proses coating (pelapisan) untuk mengurangi efek pembiasan. Sedangkan lensa fotokopi merupakan lensa gabungan sehingga dapat menghasilkan citra yang lebih tajam dan bagus karena citra dari obyektif inilah yang akan dilihat/dibesarkan oleh sistem mikroskop tsb, keuntungan mikroteleskop ini adalah gambar yang dihasilkan tegak/tidak terbalik.
Cara yang kedua, menggunakan langsung obyektif mikroskop sebagai eyepiece (okuler teleskop) dan lensa fotokopi sebagai obyektifnya. Prinsipnya adalah teleskop biasa yaitu menghimpitkan fokus antara obyektif dan okuler sehingga diperoleh kesan bayangan yang dibesarkan. Bayangan yang dihasilkan pada teleskop ini terbalik dari bendanya seperti lazimnya sebuah teleskop. Sistem fokuser dapat dibuat yang lebih baik menggunakan sistem ulir/sekrup, namun kalau kesulitan lobang bagian belakang diberi shok menggunakan gulungan kertas atau alumunium bubut sehingga bagian eyepiece/okuler dapat dimaju-mundurkan untuk mendapatkan fokus yang tepat. Bagian eyepice (okuler) juga dapat digunakan okuler milik binokuler. Kalau sudah oke tinggal taruh di atas penyangga/tripod dengan dudukan/mounting yang telah kita siapkan.
.
Untuk finder (pembidik) dapat digunakan bekas binokuler kecil 7x35 yang diambil satu bagiannya yang memiliki pengatur fokus saya tempatkan di atas teleskop menggunakan penjepit alumunium, kecuali untuk membidik juga biar teleskop kelihatan keren. Akhirnya dengan sedikit ketelatenan dan keuletan kita akan bisa memiliki sebuah teleskop yang tidak kalah dengan buatan pabrik itu dan siap kita gunakan.
.
Nah, setelah dicoba ternyata teleskop cukup bagus saat diarahkan ke permukaan bulan, beberapa kawah terlihat cukup jelas disana. Bahkan saat kamera digital ikut mengintip melalui eyepicenya hasilnyapun lumayan... Idealnya juga kalau di indonesia ada yang jual cermin teleskop atau lensa dan eyepiece kita bisa banyak berkreasi dengan teleskop. Bahkan mungkin bisa diadakan lomba merakit teleskop antar amatir untuk memajukan astronomi Indonesia
.- lensa bekas fotokopi / lup / lensa cembung (biasanya memiliki fokus 25-60 cm)- lensa obyektif mikroskop m=10x sd 20x- lensa okuler mikroskop m=5x atau 12.5x- pipa pralon 4"- sambungan 4"-4" = 2x dan 4"-2"=1x- teleskop finder ( bisa digunakan binokuler yang kecil/diambil satu saja)- penyangga (tripod) alt-azimuth
.
Yang pertama disebut mikroteleskop karena gabungan antara mikroskop dan teleskop. Prinsip kerja teleskop ini sebetulnya merupakan prinsip kerja sebuah mikroskop yang obyeknya berupa image yang dihasilkan oleh obyektif teleskop (lensa fotokopi). Menggunakan lensa lup (magnifier) yang besar juga bisa tapi kelemahannya fokusnya terlalu pendek akan terjadi pembiasan karena lensa tunggal dan biasanya lensa ini tidak mengalami proses coating (pelapisan) untuk mengurangi efek pembiasan. Sedangkan lensa fotokopi merupakan lensa gabungan sehingga dapat menghasilkan citra yang lebih tajam dan bagus karena citra dari obyektif inilah yang akan dilihat/dibesarkan oleh sistem mikroskop tsb, keuntungan mikroteleskop ini adalah gambar yang dihasilkan tegak/tidak terbalik.
Cara yang kedua, menggunakan langsung obyektif mikroskop sebagai eyepiece (okuler teleskop) dan lensa fotokopi sebagai obyektifnya. Prinsipnya adalah teleskop biasa yaitu menghimpitkan fokus antara obyektif dan okuler sehingga diperoleh kesan bayangan yang dibesarkan. Bayangan yang dihasilkan pada teleskop ini terbalik dari bendanya seperti lazimnya sebuah teleskop. Sistem fokuser dapat dibuat yang lebih baik menggunakan sistem ulir/sekrup, namun kalau kesulitan lobang bagian belakang diberi shok menggunakan gulungan kertas atau alumunium bubut sehingga bagian eyepiece/okuler dapat dimaju-mundurkan untuk mendapatkan fokus yang tepat. Bagian eyepice (okuler) juga dapat digunakan okuler milik binokuler. Kalau sudah oke tinggal taruh di atas penyangga/tripod dengan dudukan/mounting yang telah kita siapkan.
.
Untuk finder (pembidik) dapat digunakan bekas binokuler kecil 7x35 yang diambil satu bagiannya yang memiliki pengatur fokus saya tempatkan di atas teleskop menggunakan penjepit alumunium, kecuali untuk membidik juga biar teleskop kelihatan keren. Akhirnya dengan sedikit ketelatenan dan keuletan kita akan bisa memiliki sebuah teleskop yang tidak kalah dengan buatan pabrik itu dan siap kita gunakan.
.
Nah, setelah dicoba ternyata teleskop cukup bagus saat diarahkan ke permukaan bulan, beberapa kawah terlihat cukup jelas disana. Bahkan saat kamera digital ikut mengintip melalui eyepicenya hasilnyapun lumayan... Idealnya juga kalau di indonesia ada yang jual cermin teleskop atau lensa dan eyepiece kita bisa banyak berkreasi dengan teleskop. Bahkan mungkin bisa diadakan lomba merakit teleskop antar amatir untuk memajukan astronomi Indonesia
Pengamatan dalam Mekanika Kuantum
Mekanika klasik memberi hasil tidak akurat dalam membahas gerak benda-benda mikroskopik, misalnya atom, tetapi tetap sukses untuk analisis gerak benda-benda makroskopik. Pengertian mikroskopik dalam skala atomik merupakan hal yang mutlak (tidak bersifat relatif). Secara praktis, benda dikategorikan mikroskopik apabila fenomenanya tidak lagi dapat dijelaskan oleh mekanika klasik.
Pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika klasik tidak menngganggu keadaan sistem. Hal ini berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika kuantum, sebab pengamatan berarti mengganggu keadaan sistem.
Sebagai contoh dalam aplikasi persamaan Maxwell, digunakan asumsi bahwa arus listrik dan medan dapat diukur secara bersamaan tanpa masalah, tidak terjadi perubahan nilai akibat urutan pengamatan. Secara prinsip, berdasarkan mekanika klasik, ketidak pastian pengukuran dapat dikoreksi, misalnya dengan melakukan pengamatan berkali-kali.
Pengamatan yang paling sederhana adalah melihat sesuatu. Agar suatu benda dapat dilihat, maka harus ada cahaya yang jatuh pada benda tersebut. Dalam skala mikro, menjatuhkan cahaya pada benda berarti membombardirnya dengan foton. Jika pengamatan dimaksudkan untuk menentukan posisi benda secara akurat, misalnya, maka panjang gelombang cahaya yang dijatuhkan haruslah cukup kecil, berarti frekuensinya mesti cukup besar. Dengan demikian energinya juga berarti besar. Pada gilirannya, melakukan pengamatan, apabila sistemnya kecil, berarti mengganggu sistem tersebut. Karena itu, ada keterbatasan ketepatan pengamatan yang ditimbulkan oleh sistem yang diamati. Keterbatasan ini tidak mungkin dieliminasi dengan p memperbaiki teknik pengamatan/pengukuran. Dalam upaya untuk mengerti akibat gangguan terhadap system dan respon sistem terhadap gangguan yang diberikan, kita memerlukan teori baru, yakni mekanika kuantum.
Dengan uraian di atas, tampak bahwa fisika kuantum bermaksud menganalisis problema yang cukup rumit. Masalah kemudian adalah bagaimana menyusun teori fisis tentang informasi yang diperoleh dengan cara yang tampak janggal. Hal yang mencengangkan adalah bahwa ternyata teori kuantum cukup rapi dan mampu menjelaskan banyak gejala yang tak terjelaskan secara klasik, bukan karena secara mendasar berbeda konsep dengan mekanika klasik.
Point pertama dari mekanika kuantum adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh pengamatan ter hadap sistem; pengaruh ini tentu muncul secara eksplisit dalam teori. Terdapat 2 sifat utama pengamatan
Untuk setiap pengukuran (pengukuran energi, momentum dan posisi) terdapat himpunan bilangan yang bersesuaian dengan semua hasil yang mungkin dari pengukuran bersangkutan. Bilangan-bilangan itu dapat memiliki harga kontinu atau harga diskret, misalnya spektrum energi atom hidrogen.
Andaikan terdapat dua jenis pengukuran, yakni pengukuran A dan B. (Misalnya A untuk pengukuran posisi, dan B untuk pengukuran momentum). Kita simbolkan pengukuran B diikuti oleh A sebagai AB, dan BA menyatakan urutan pengkuran sebaliknya. Oleh karena masing-masing pengukuran dapat mengganggu hasil pengukuran lainnya, maka dua urutan pengukuran tersebut memberi hasil berbeda. Secara umum disimbolkan sebagai
Nilai dari sajian ini tentu saja berhubungan dengan harga gangguan yang tak terhindarkan yang disebutkan sebelumnya. Point inilah dan dengan interpretasi ini pula mekanika kuantum memperkanalkan suatu tetapan dalam rangka mengkuantisasi batasan mutlak antara mekanika klasik dan mekanika kuantum. Dari teori kuantum lama, tetapan ini tiada lain adalah tetapan Planck .
Mekanika klasik memberi hasil tidak akurat dalam membahas gerak benda-benda mikroskopik, misalnya atom, tetapi tetap sukses untuk analisis gerak benda-benda makroskopik. Pengertian mikroskopik dalam skala atomik merupakan hal yang mutlak (tidak bersifat relatif). Secara praktis, benda dikategorikan mikroskopik apabila fenomenanya tidak lagi dapat dijelaskan oleh mekanika klasik.
Pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika klasik tidak menngganggu keadaan sistem. Hal ini berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika kuantum, sebab pengamatan berarti mengganggu keadaan sistem.
Sebagai contoh dalam aplikasi persamaan Maxwell, digunakan asumsi bahwa arus listrik dan medan dapat diukur secara bersamaan tanpa masalah, tidak terjadi perubahan nilai akibat urutan pengamatan. Secara prinsip, berdasarkan mekanika klasik, ketidak pastian pengukuran dapat dikoreksi, misalnya dengan melakukan pengamatan berkali-kali.
Pengamatan yang paling sederhana adalah melihat sesuatu. Agar suatu benda dapat dilihat, maka harus ada cahaya yang jatuh pada benda tersebut. Dalam skala mikro, menjatuhkan cahaya pada benda berarti membombardirnya dengan foton. Jika pengamatan dimaksudkan untuk menentukan posisi benda secara akurat, misalnya, maka panjang gelombang cahaya yang dijatuhkan haruslah cukup kecil, berarti frekuensinya mesti cukup besar. Dengan demikian energinya juga berarti besar. Pada gilirannya, melakukan pengamatan, apabila sistemnya kecil, berarti mengganggu sistem tersebut. Karena itu, ada keterbatasan ketepatan pengamatan yang ditimbulkan oleh sistem yang diamati. Keterbatasan ini tidak mungkin dieliminasi dengan p memperbaiki teknik pengamatan/pengukuran. Dalam upaya untuk mengerti akibat gangguan terhadap system dan respon sistem terhadap gangguan yang diberikan, kita memerlukan teori baru, yakni mekanika kuantum.
Dengan uraian di atas, tampak bahwa fisika kuantum bermaksud menganalisis problema yang cukup rumit. Masalah kemudian adalah bagaimana menyusun teori fisis tentang informasi yang diperoleh dengan cara yang tampak janggal. Hal yang mencengangkan adalah bahwa ternyata teori kuantum cukup rapi dan mampu menjelaskan banyak gejala yang tak terjelaskan secara klasik, bukan karena secara mendasar berbeda konsep dengan mekanika klasik.
Point pertama dari mekanika kuantum adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh pengamatan ter hadap sistem; pengaruh ini tentu muncul secara eksplisit dalam teori. Terdapat 2 sifat utama pengamatan
Untuk setiap pengukuran (pengukuran energi, momentum dan posisi) terdapat himpunan bilangan yang bersesuaian dengan semua hasil yang mungkin dari pengukuran bersangkutan. Bilangan-bilangan itu dapat memiliki harga kontinu atau harga diskret, misalnya spektrum energi atom hidrogen.
Andaikan terdapat dua jenis pengukuran, yakni pengukuran A dan B. (Misalnya A untuk pengukuran posisi, dan B untuk pengukuran momentum). Kita simbolkan pengukuran B diikuti oleh A sebagai AB, dan BA menyatakan urutan pengkuran sebaliknya. Oleh karena masing-masing pengukuran dapat mengganggu hasil pengukuran lainnya, maka dua urutan pengukuran tersebut memberi hasil berbeda. Secara umum disimbolkan sebagai
Nilai dari sajian ini tentu saja berhubungan dengan harga gangguan yang tak terhindarkan yang disebutkan sebelumnya. Point inilah dan dengan interpretasi ini pula mekanika kuantum memperkanalkan suatu tetapan dalam rangka mengkuantisasi batasan mutlak antara mekanika klasik dan mekanika kuantum. Dari teori kuantum lama, tetapan ini tiada lain adalah tetapan Planck .
harapan
dalam cinta sejati dalam kata yang terindah yang
mungkin tak terlupakan oleh
kasih sayang yang tak terlupakan oleh
impian impian cinta
mungkin kah ada harapan untuk mendapatkanya
mungkin hanya allah yangtahu dimana kisah ini mengalir
mungkin tak terlupakan oleh
kasih sayang yang tak terlupakan oleh
impian impian cinta
mungkin kah ada harapan untuk mendapatkanya
mungkin hanya allah yangtahu dimana kisah ini mengalir
mekanika quantum
Pengamatan dalam Mekanika Kuantum
Mekanika klasik memberi hasil tidak akurat dalam membahas gerak benda-benda mikroskopik, misalnya atom, tetapi tetap sukses untuk analisis gerak benda-benda makroskopik. Pengertian mikroskopik dalam skala atomik merupakan hal yang mutlak (tidak bersifat relatif). Secara praktis, benda dikategorikan mikroskopik apabila fenomenanya tidak lagi dapat dijelaskan oleh mekanika klasik.
Pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika klasik tidak menngganggu keadaan sistem. Hal ini berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika kuantum, sebab pengamatan berarti mengganggu keadaan sistem.
Sebagai contoh dalam aplikasi persamaan Maxwell, digunakan asumsi bahwa arus listrik dan medan dapat diukur secara bersamaan tanpa masalah, tidak terjadi perubahan nilai akibat urutan pengamatan. Secara prinsip, berdasarkan mekanika klasik, ketidak pastian pengukuran dapat dikoreksi, misalnya dengan melakukan pengamatan berkali-kali.
Pengamatan yang paling sederhana adalah melihat sesuatu. Agar suatu benda dapat dilihat, maka harus ada cahaya yang jatuh pada benda tersebut. Dalam skala mikro, menjatuhkan cahaya pada benda berarti membombardirnya dengan foton. Jika pengamatan dimaksudkan untuk menentukan posisi benda secara akurat, misalnya, maka panjang gelombang cahaya yang dijatuhkan haruslah cukup kecil, berarti frekuensinya mesti cukup besar. Dengan demikian energinya juga berarti besar. Pada gilirannya, melakukan pengamatan, apabila sistemnya kecil, berarti mengganggu sistem tersebut. Karena itu, ada keterbatasan ketepatan pengamatan yang ditimbulkan oleh sistem yang diamati. Keterbatasan ini tidak mungkin dieliminasi dengan p memperbaiki teknik pengamatan/pengukuran. Dalam upaya untuk mengerti akibat gangguan terhadap system dan respon sistem terhadap gangguan yang diberikan, kita memerlukan teori baru, yakni mekanika kuantum.
Dengan uraian di atas, tampak bahwa fisika kuantum bermaksud menganalisis problema yang cukup rumit. Masalah kemudian adalah bagaimana menyusun teori fisis tentang informasi yang diperoleh dengan cara yang tampak janggal. Hal yang mencengangkan adalah bahwa ternyata teori kuantum cukup rapi dan mampu menjelaskan banyak gejala yang tak terjelaskan secara klasik, bukan karena secara mendasar berbeda konsep dengan mekanika klasik.
Point pertama dari mekanika kuantum adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh pengamatan ter hadap sistem; pengaruh ini tentu muncul secara eksplisit dalam teori. Terdapat 2 sifat utama pengamatan
Untuk setiap pengukuran (pengukuran energi, momentum dan posisi) terdapat himpunan bilangan yang bersesuaian dengan semua hasil yang mungkin dari pengukuran bersangkutan. Bilangan-bilangan itu dapat memiliki harga kontinu atau harga diskret, misalnya spektrum energi atom hidrogen.
Andaikan terdapat dua jenis pengukuran, yakni pengukuran A dan B. (Misalnya A untuk pengukuran posisi, dan B untuk pengukuran momentum). Kita simbolkan pengukuran B diikuti oleh A sebagai AB, dan BA menyatakan urutan pengkuran sebaliknya. Oleh karena masing-masing pengukuran dapat mengganggu hasil pengukuran lainnya, maka dua urutan pengukuran tersebut memberi hasil berbeda. Secara umum disimbolkan sebagai
Nilai dari sajian ini tentu saja berhubungan dengan harga gangguan yang tak terhindarkan yang disebutkan sebelumnya. Point inilah dan dengan interpretasi ini pula mekanika kuantum memperkanalkan suatu tetapan dalam rangka mengkuantisasi batasan mutlak antara mekanika klasik dan mekanika kuantum. Dari teori kuantum lama, tetapan ini tiada lain adalah tetapan Planck .
Mekanika klasik memberi hasil tidak akurat dalam membahas gerak benda-benda mikroskopik, misalnya atom, tetapi tetap sukses untuk analisis gerak benda-benda makroskopik. Pengertian mikroskopik dalam skala atomik merupakan hal yang mutlak (tidak bersifat relatif). Secara praktis, benda dikategorikan mikroskopik apabila fenomenanya tidak lagi dapat dijelaskan oleh mekanika klasik.
Pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika klasik tidak menngganggu keadaan sistem. Hal ini berbeda dengan pengamatan yang dilakukan dalam lingkup mekanika kuantum, sebab pengamatan berarti mengganggu keadaan sistem.
Sebagai contoh dalam aplikasi persamaan Maxwell, digunakan asumsi bahwa arus listrik dan medan dapat diukur secara bersamaan tanpa masalah, tidak terjadi perubahan nilai akibat urutan pengamatan. Secara prinsip, berdasarkan mekanika klasik, ketidak pastian pengukuran dapat dikoreksi, misalnya dengan melakukan pengamatan berkali-kali.
Pengamatan yang paling sederhana adalah melihat sesuatu. Agar suatu benda dapat dilihat, maka harus ada cahaya yang jatuh pada benda tersebut. Dalam skala mikro, menjatuhkan cahaya pada benda berarti membombardirnya dengan foton. Jika pengamatan dimaksudkan untuk menentukan posisi benda secara akurat, misalnya, maka panjang gelombang cahaya yang dijatuhkan haruslah cukup kecil, berarti frekuensinya mesti cukup besar. Dengan demikian energinya juga berarti besar. Pada gilirannya, melakukan pengamatan, apabila sistemnya kecil, berarti mengganggu sistem tersebut. Karena itu, ada keterbatasan ketepatan pengamatan yang ditimbulkan oleh sistem yang diamati. Keterbatasan ini tidak mungkin dieliminasi dengan p memperbaiki teknik pengamatan/pengukuran. Dalam upaya untuk mengerti akibat gangguan terhadap system dan respon sistem terhadap gangguan yang diberikan, kita memerlukan teori baru, yakni mekanika kuantum.
Dengan uraian di atas, tampak bahwa fisika kuantum bermaksud menganalisis problema yang cukup rumit. Masalah kemudian adalah bagaimana menyusun teori fisis tentang informasi yang diperoleh dengan cara yang tampak janggal. Hal yang mencengangkan adalah bahwa ternyata teori kuantum cukup rapi dan mampu menjelaskan banyak gejala yang tak terjelaskan secara klasik, bukan karena secara mendasar berbeda konsep dengan mekanika klasik.
Point pertama dari mekanika kuantum adalah pengaruh yang ditimbulkan oleh pengamatan ter hadap sistem; pengaruh ini tentu muncul secara eksplisit dalam teori. Terdapat 2 sifat utama pengamatan
Untuk setiap pengukuran (pengukuran energi, momentum dan posisi) terdapat himpunan bilangan yang bersesuaian dengan semua hasil yang mungkin dari pengukuran bersangkutan. Bilangan-bilangan itu dapat memiliki harga kontinu atau harga diskret, misalnya spektrum energi atom hidrogen.
Andaikan terdapat dua jenis pengukuran, yakni pengukuran A dan B. (Misalnya A untuk pengukuran posisi, dan B untuk pengukuran momentum). Kita simbolkan pengukuran B diikuti oleh A sebagai AB, dan BA menyatakan urutan pengkuran sebaliknya. Oleh karena masing-masing pengukuran dapat mengganggu hasil pengukuran lainnya, maka dua urutan pengukuran tersebut memberi hasil berbeda. Secara umum disimbolkan sebagai
Nilai dari sajian ini tentu saja berhubungan dengan harga gangguan yang tak terhindarkan yang disebutkan sebelumnya. Point inilah dan dengan interpretasi ini pula mekanika kuantum memperkanalkan suatu tetapan dalam rangka mengkuantisasi batasan mutlak antara mekanika klasik dan mekanika kuantum. Dari teori kuantum lama, tetapan ini tiada lain adalah tetapan Planck .
cahaya sejati
mungkin dalam cinta hanya bisa memandang saja tanpa bisa bicara mungkinkah itu yang diharapkan oleh kita memandang dan memandang saja tanpa berpikir itu saja
Rabu, 05 November 2008
the river 2
Langganan:
Postingan (Atom)

